Home Penyakit Uncategorized Emosi di masa bayi sangat menentukan perkembangan kepribadian anak

Emosi di masa bayi sangat menentukan perkembangan kepribadian anak

Emosi di masa bayi sangat menentukan perkembangan kepribadian anakMemang tak mudah untuk mengenali apakah emosi bayi terganggu atau tidak. Yang penting, berupayalah mengenali emosi yang ditunjukkan si kecil karena hanya dengan itulah orangtua bisa membaca apa ke-butuhannya. Nahh mau tau apa yang musti dicurigai jika bayi mengalami masalah emosi?? Mau tau?? Berikut ulasannya.

Emosi Di Masa Bayi Sangat Menentukan Perkembangan Kepribadian Anak

Kelewat Anteng

Umumnya selama minggu-minggu pertama setelah lahir, bayi akan sering menangis dan rewel. Sebenarnya tangis dan kerewelan merupakan bentuk emosi pertama yang ditunjukkan bayi. Ketidaknyamanan yang disebabkan rasa lapar, gerah, atau popok basah seharusnya disampaikan lewat tangisan. Jadi, kalau bayi yang terlihat begitu tenang dan jarang sekali me-nangis orangtua perlu curiga karena setiap bayi pasti akan mengalami ketidaknyamanan seperti itu.

Bayi kelewat anteng, bila ditelusuri boleh jadi mengalami gangguan kinerja otak. Untuk memastikannya tak ada cara lain kecuali minta bantuan ahli, baik pemeriksaan oleh dokter anak ataupun psikolog. Observasi mendalam diharapkan dapat membantu menemukan akar masalah yang dialami si kecil. Tindakan tepat di tangan ahli yang benar-benar kompeten tentu akan menghindari atau setidaknya meminimalkan gangguan yang mungkin ada.

Terhadap tangisan dan kerewelan bayi, tanpa perlu kelewat cemas, cepatlah tanggap untuk segera memeriksa apakah dia pup, ngompol, lapar, haus, dan sebagainya. Kemudian bersegeralah pula melakukan tindakan yang diperlukan.

Bila ternyata tak ada ketidaknyamanan yang ditemukan, sangat mungkin bayi ingin sekadar digendong agar merasa lebih nyaman dan aman. Ya segeralah menggendongnya.

Dengan begitu bayi mendapat kenyamanan yang dibutuhkan. Pemenuhan ini selanjutnya akan menumbuhkan rasa percaya (basic trust) terhadap lingkungan terdekatnya.

Tak Pernah Senyum

Normalnya, senyum sosial dan suara-suara ocehan sudah muncul sejak usia 2 bulanan. Terutama saat perutnya kenyang, ingin bermain, atau ingin membalas sapaan kita. Bila demikian berarti kemampuan sosialnya berkembang dengan baik. Salah satunya berkat kecukupan stimulasi yang kita berikan.

Sebaliknya, bila kemampuan ini tak kunjung muncul (misalnya bayi tak bisa tersenyum spontan hingga di usia 5 bulanan) bisa saja ia mengalami gangguan emosi. Gangguan yang satu ini tak selalu akibat adanya kelainan pada diri bayi, namun mungkin saja karena si kecil kurang mendapat stimulasi. Bayi-bayi yang dibesarkan oleh ibu-ibu yang jarang tersenyum dan jarang mengajak bercakap-cakap biasanya juga akan tumbuh menjadi bayi yang sulit tersenyum dan mengekspresikan perasaannya lewat suara-suara. Ini karena emosi bayi tak terstimulasi dengan baik.

Emosi Berlebihan

Reaksi emosi ternyata tak hanya dimiliki orang dewasa. Bayi pun bisa! Reaksi emosi ini dapat diamati lebih jelas ketika bayi sudah melewati usia 3 bulan. Dia menggunakan mimik muka, gerakan badan, dan rengekan untuk mengomunikasikan emosi kecewa saat kebutuhannya tidak terpenuhi. Gangguan emosi terjadi jika bayi bereaksi secara berlebihan. Contohnya, muncul tantrum dibarengi dengan teriakan-teriakan keras, membanting-banting mainannya dengan keras, tak mau tenang untuk waktu lama dan sebagainya. Salah satu penyebab munculnya gangguan emosi ini adalah ADHD, maupun autisma. Bayi-bayi yang diduga memiliki gangguan tersebut biasanya menunjukkan emosi berlebihan pada situasi tertentu.

Namun bila emosi berlebihan tadi lantaran bayi mengalami kekecewaan mendalam dan bukan hal lainnya, biasanya akan cepat tenang kembali begitu ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Untuk membangun emosi yang positif, orangtua sebaiknya terbiasa mengarahkan bayinya. Semisal dengan menjelaskan padanya bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik. Tentu saja jangan berharap segalanya akan beres hanya dengan sekali memberi penjelasan. Soalnya, seperti proses pembelajaran lainnya, hal ini harus dilakukan berulang-ulang, baik saat emosi berlebihnya muncul maupun saat dia tenang. Tak hanya itu. Orangtua pun harus jeli membaca kebutuhan bayinya sehingga dapat memenuhi saat bayi membutuhkan. Contohnya, ketepatan waktu menyusu/makan makanan pendamping yang memungkinkan orangtua tahu persis kapan si bayi merasa tidak nyaman dengan kondisi perutnya yang lapar.

Acuh Tak Acuh

Seharusnya di usia 4 bulan ke atas, bayi sudah bisa merasakan situasi sekitarnya. Di antaranya dapat merasakan emosi ibunya yang tengah sedih, gundah, marah, letih, dan sebagainya. Coba saja perhatikan, tanpa diminta pun seorang bayi akan segera berhenti ber”celoteh” kala ibunya bicara dengan intonasi tinggi yang merupakan pertanda marah. Nah, bayi-bayi yang mengalami gangguan emosi biasanya justru cuek pada apa yang terjadi di sekelilingnya. Jadi, mestinya orangtua segera curiga bila anaknya tetap membanting-banting mainannya meski ibunya sudah melarang dengan nada keras. Atau dia akan tetap asyik dengan keasyikannya sendiri meski ayah sedang memarahi kakak, misalnya.

Kalau ini yang terjadi, orangtua diminta untuk sering-sering mengajak si kecil bermain, ngobrol, mendongengkan. Dengan demikian setidaknya ada rangsangan ke otaknya untuk bisa fokus ke satu hal yang tengah dihadapinya. Intervensi semacam ini diharapkan bisa meringankan kadar keacuhan bayi terhadap lingkungannya. Tentu saja orangtua tetap harus berkonsultasi ke ahlinya guna membicarakan aneka terapi lebih lanjut yang tepat dan sesuai porsinya bagi si anak.

Tak Terjalin Kelekatan

Bayi yang sebagian besar waktunya senantiasa bersama sang ibu, disusui, mendapat perlindungan dan dipenuhi kebutuhannya seharusnya akan merasa tidak nyaman kala di-tinggal pergi bekerja, misalnya. Ini bisa dimengerti karena kelekatan yang sudah terjalin pasti akan terusik kala harus berpisah. Keduanya akan merasa kehilangan satu sama lain. Ini adalah reaksi yang wajar selama kelekatan tersebut tidak berlebihan. Contohnya, menangis menjerit-jerit sedemikian keras padahal si ibu hanya buang air ke kamar mandi. Namun pada bayi-bayi tertentu justru seba-liknya. Si bayi tenang-tenang dan tetap happy meski ibu/ayahnya pergi dalam waktu cukup lama lantaran tak merasa lekat.

Tidak adanya kelekatan ini bisa karena gangguan emosi akibat gangguan pertumbuhan otak seperti yang dialami anak autisme. Akan tetapi bisa juga karena orangtua tidak menumbuhkan kelekatan padanya. Misalnya dengan dalih kelewat sibuk kemudian menyerahkan sepenuhnya urusan dan pengasuhan si kecil pada babysitter/pengasuh, dari makan, minum susu sampai mandi dan sebagainya. Ketidaklekatan ini bukannya tidak membuahkan “hasil” lo. Bayi-bayi yang tidak beroleh kenya-manan dari orangtuanya biasanya akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh, kurang percaya diri, dan emosional.

Sebaiknya, sesibuk apa pun, orangtua mesti mengupayakan kecukupan pemberian perhatian. Boleh saja siang hari di saat bekerja orangtua memberi kewenangan pada pengasuh, nenek, atau kerabat lain untuk merawat si kecil. Namun sesampainya di rumah, penanganan harus langsung kembali menjadi porsi orangtua. Begitu juga di kala libur, hendaknya orangtua jangan hanya memanfaatkan waktu untuk dirinya sendiri, melainkan untuk bermain, bercengkrama dan mengurusi segala kebutuhan bayinya. Ini mesti diupayakan agar pertumbuhan emosi bayi berjalan dengan baik lewat kelekatan yang terjalin. Sedangkan untuk bayi-bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan otak, mau tidak mau orangtua harus melibatkan ahli dalam menangani gangguan psikisnya.

  1. Terlalu Takut

Cemas berada sendirian di kamar atau cemas bertemu dengan orang asing merupakan reaksi wajar yang ditunjukkan bayi berusia 7 bulan. Ungkapan emosi ini menandakan kalau bayi sudah mampu menunjukkan kewaspadaan terhadap sesuatu yang menurutnya asing. Yang tidak wajar adalah jika ketakutan tersebut muncul sangat berlebihan. Contohnya, bayi akan ber-teriak sangat keras saat berada sendirian dalam kamar atau memeluk sangat erat dan tak mau dilepaskan saat bertemu orang asing.

Kalau ini yang terjadi berarti ada gangguan emosi akibat perasaan tidak aman terhadap lingkungannya. Tentu saja gangguan emosi ini harus segera diluruskan agar emosi anak tumbuh positif dan kelak mampu mengembangkan berbagai kemampuan dan kecerdasan sesuai tahapan perkembangannya. Caranya, dengan memberinya ketenangan saat dia takut le-wat belaian dan pelukan. “Pesan” ini akan diterima anak sebagai sinyal kalau orangtuanya siap memenuhi kebutuhannya. Disamping mengajaknya berkomunikasi, di antaranya mengenai keberanian dan sejenisnya. Ketakutan dalam porsi wajar pasti akan mendukung tumbuhnya pribadi positif, percaya diri, kreatif, berani, dan sebagainya.

Demikian ulasan artikel diatas, semoga bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih.

Emosi di masa bayi sangat menentukan perkembangan kepribadian anak
Emosi di masa bayi sangat menentukan perkembangan kepribadian anak
Artikel "Emosi di masa bayi sangat menentukan perkembangan kepribadian anak" ditulis oleh beritakita35 update terakhir pada 23rd August 2014 Categories Uncategorized permalinks http://www.jamugodog.com/emosi-di-masa-bayi-sangat-menentukan-perkembangan-kepribadian-anak.html di

Baca Juga:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.